Meski sempat terbebani nama besar sang ayah, putra Benny Likumahuwa ini akhirnya bisa membuktikan diri dan mengukir jejak sendiri. Di tangannya, instrumen bass dan musik jazz jadi terdengar asyik dan bisa dinikmati semua kalangan.Lahir dan besar di lingkungan pemusik, mau tak mau menyeret Elseos Jeberani Emanuel Likumahuwa jatuh cinta pada musik. Bagaimana tidak, sejak masih di dalam kandungan sang bunda, Ribkah Ariadini, Barry, demikian ia biasa disapa, setiap hari dicekoki dengan musik, terutama musik jazz kreasi sang ayah, Benny Likumahuwa.Tapi, kecintaan Barry yang sesungguhnya pada jazz baru benar-benar tumbuh saat usia 11 tahun.
Masuk bangku SMA, Barry membentuk band bersama teman sekolahnya. Menjajal berbagai panggung sekolah, Barry seolah tak terpisahkan dengan bass-nya. “Aku pilih bass karena aku tertarik mengeksplornya. Orang kan, tahunya bass cenderung sebagai instrumen belakang, hanya untuk rhtym dan menjaga beat. Usai kuliah, Barry kembali menggantungkan hidup dari musik. Meski rajin menggelar pertunjukan, tak banyak rupiah yang bisa diraup Barry kala itu. “Udah pada tahulah kalau jazz itu kan, bayarannya paling kecil,” seloroh Barry. Tapi, dewi fortuna akhirnya memihak pada Barry. Pada satu pertunjukan di tahun 2003, ia dipertemukan dengan Glenn Fredly.
Glenn yang jatuh cinta dengan betotan bass Barry yang apik, langsung menggandengnya menjadi personil tetap di band pengiring. Dari sinilah perjalanan profesional Barry dimulai. Perlahan namun pasti, nama Barry pun mulai dikenal, tak hanya di kancah musik jazz, tapi juga pop.Meski sempat “mendua”, rupanya hati dan jiwa Barry tetap terikat pada jazz. Mimpi dan obsesinya pun hanya untuk genre musik satu ini. Lebih jauh, pria berlesung pipi ini bahkan juga berhasrat menjadikan bassis sebagai pentolan alias garda depan. Hasrat inilah yang mendorong Barry menelurkan proyek solo perdananya yang dinamai Barry Likumahuwa Project (BLP), 2006 silam.
Awalnya serba tak sengaja. Saat ajang tahunan Java Jazz digelar tahun itu, Barry diminta mengisi salah satu panggung. Karena dadakan, Barry yang belum memiliki band, terpaksa mencomot teman-teman pemusik yang sudah dikenalnya, dan menggunakan namanya sendiri sebagai nama band.
Tak disangka, band instan itu justru memukau. Tahun 2008 BLP meluncurkan album perdana bertajuk Goodspell dengan hits Mati Saja. Alirannya, tentu saja jazz. Sembilan dari 11 lagu di album ini adalah ciptaan Barry. Hebatnya, kemunculan BLP berhasil mencuri perhatian, khususnya kaum muda.
0 komentar:
Posting Komentar